INFO DESA

Kirangan Tumben: Harmoni Kebhinekaan dan Solidaritas Sosial Warga Desa Tukum
01 September 2025   10 kali

Tukum, KIM – Perayaan Kirangan Tumben di Desa Tukum Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang, Minggu (31/8/2025) menjadi bukti nyata bahwa desa tidak sekadar melestarikan tradisi, tetapi juga secara aktif merawat kebhinekaan sebagai fondasi persatuan masyarakat. 

Ribuan warga dari berbagai usia, suku, dan latar belakang berpartisipasi dalam acara ini, menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat ikatan sosial.

Pawai seni dan budaya menampilkan musik tradisional, tarian, reog dan gunungan yang melambangkan harmoni dalam keberagaman. Anak-anak, remaja, hingga lansia berjalan berdampingan, saling menyemangati, dan ikut merayakan budaya desa bersama. Warna-warni kain batik, alunan gamelan, dan kreativitas warga menjadi simbol bahwa kebhinekaan adalah warisan luhur yang terus dirawat secara nyata.

Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menegaskan, “Kirangan Tumben adalah sarana bagi desa untuk mengambil bagian aktif dalam merawat kebhinekaan. Warga Desa Tukum menunjukkan bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan, sekaligus sarana menanamkan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi muda.”

Generasi muda mendapat pengalaman langsung tentang keberagaman dan persatuan. Rivan (11 tahun) antusias, “Aku senang ikut Kirangan Tumben! Bisa jalan sama teman-teman dari dusun lain, dan belajar banyak tentang budaya desa.”

Warga dewasa juga merasakan manfaatnya. Supadmi (50 tahun) mengatakan, “Kirangan Tumben iki nggawe aku luwih cedhak karo tetanggan. Senajan beda-beda, kabeh bisa nyawiji ngrayakake budaya desa. Iki pancen nggawe atiku anget (Kirangan Tumben ini membuat saya lebih dekat dengan tetangga. Walaupun berbeda-beda, semua bisa bersatu merayakan budaya desa. Ini benar-benar membuat hati saya hangat, red).”

Selain itu, Kirangan Tumben menunjukkan kekuatan solidaritas sosial berbasis kebhinekaan. Warga saling bahu-membahu menyiapkan dekorasi maupun gunungan hasil bumi, menjaga kelancaran acara, dan menyambut tamu dari desa sekitar. Keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat menegaskan bahwa desa adalah ruang hidup yang menjaga keberagaman, persatuan, dan nilai kemanusiaan.

Acara ditutup dengan doa bersama, grebeg gunungan hasil bumi dan pertunjukan seni lokal. Warga tampak bangga atas identitas mereka yang beragam namun bersatu, menegaskan bahwa Desa Tukum secara nyata mengambil bagian dalam merawat kebhinekaan, melestarikan warisan budaya, dan menumbuhkan persatuan lintas generasi.

Kirangan Tumben Desa Tukum menjadi inspirasi bahwa kebhinekaan bukan sekadar simbol, tetapi praktik hidup yang membangun masyarakat inklusif, harmonis, dan berbudaya. (KIM Tukum Mandiri/Wulan)

 

Kembali